Posted by: rullydamayanti | November 25, 2011

Pengaruh Gaya Hidup Terhadap Persepsi Kota Surabaya

(tulisan ini berdasarkan penelitian mental map pada mahasiswa semester-7 jur.Arsitektur, dan telah dipresentasikan di Semnas SCAN2 31 Mei 2011 di UAJY)

ABSTRACT Understanding environment is a psychological process between the environment and the observer. According to Lynch (1960), the observers identify, organize, and give meaning to the environment they contacted with, especially environment with strong visual character. Pierre von Meiss (1986) believes that environment elements with strong visual character will give specific meaning to its surrounding through its identity, such as emphasis, chaotic, repetition and geometric character. The case study, Surabaya city, is a historical city known as Kota Pahlawan, which is very well known as its city icon of Tugu Pahlawan, Patung Suro-Boyo, Hotel Majapahit and Balaikota. The paper will identify current environment understanding (perception) based on research with respondents from students at 7th semester in three years. The research undertook mental map survey and discussion with the respondents to identify the human perception to Surabaya city in this contemporary living. The mental map survey was conducted by Lynch in 1950-1960 in order to formulized the theory of ‘Imageable City’. The research result shows that there is a change in terms of landmark of the city, the change is driven by the lifestyle of youth generation in Surabaya. The perception of the city is really depending upon the observer’ routine activity inside the city. The final results of the research are specific characteristics of landmark and path that are the respondents believe as the most little effort to remember as elements of reference in orientating their activity inside the city. Keywords: imageability, perception, path, landmark

LATAR BELAKANG

Kota merupakan produk budaya yang sangat beragam satu dengan yang lainnya, karena jaringan pembentuknyapun sangat beragam. Menurut Mumford (1968), kota sangat spesifik terhadap budaya, tidak ada dua kota pun yang sama persis, meskipun memiliki latar belakang budaya yang serupa. Meskipun tiap kota sangat spesifik, tetapi Lynch percaya bahwa ada kesepakatan publik mengenai elemen-elemen yang dikenal pada suatu kota (Lynch 1960).

Secara historis, pusat perdagangan Surabaya sudah ditata untuk memiliki penanda atau ikon sebagai identitas kawasan (Dick 2002). Surabaya hingga kini diyakini memiliki ikon-ikon lingkungan yang juga memberikan karakter kuat terhadap perjuangan masyarakat Surabaya. Diantaranya adalah Tugu Pahlawan, Patung Suro-Boyo, Hotel Majapahit dan Gedung Balaikota. Kota Surabaya telah berumur lebih dari 700 tahun, dan tentunya telah memberikan makna dan arti tertentu bagi warga maupun pendatangnya. Kekuatan ekonomi Surabaya, yang didukung dengan lengkapnya segala fasilitas perdagangan, pendidikan, perkantoran dan juga perumahan, semakin lama semakin berkembang. Fasilitas tersebut memberikan penanda atau ikon bagi kota Surabaya seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan kota mengarah ke kota modern.

Paper ini ditulis berdasarkan penelitian dengan fokus pertanyaan penelitian: apakah ikon-ikon kota ini masih dikenali oleh generasi muda saat ini? Apakah ikon-ikon tersebut masih memberikan makna bagi pengamat kota, khususnya generasi muda? Pertanyaan ini akan memberikan refleksi terhadap perencanaan kota dan juga strategi pengembangan kota agar tetap menjaga identitas yang semestinya ada dan senantiasa dilestarikan.

Menurut Lynch di bukunya A Theory of Good City Form (1981), menyatakan bahwa komponen dari city-senses yang berkaitan erat dengan form/ bentuk (arsitektur) adalah sense of place dan sense of formal structure. City senses ini adalah salah satu dari dimensi yang harus dipenuhi suat kota untuk menjadi kota ideal. Sense of place adalah segala sesuatu yang kasat mata dan memiliki makna, karena berkaitan erat dengan budaya. Hal ini dapat menghadirkan atau mengembalikan memori dan perasaan tertentu terhadap sesuatu yang kasat mata di area perkotaan. Sedangkan sense of formal structure berkaitan erat dengan kemampuan seseorang terhadap orientasi di dalam setting kota (mental map). Lynch sendiri berpendapat melalui bukunya Image of The City (1960) dan A Theory of Good City Form (1981) bahwa pengenalan terhadap elemen fisik yang kasat mata (legible) berpengaruh kuat kepada pengenalan identitas kota. Untuk itu, penelitian ini dibatasi kepada pengenalan landmark dan struktur kota Surabaya.

 

 

 

 

TEORI IMAGEABLE CITY

Teori Imageable City oleh Kevin Lynch pada prinsipnya adalah pengembangan hasil penelitian yang berasal dari keilmuan psikologi lingkungan. Pada tahun 1950 Kevin Lynch mencoba memformulasikan persepsi lingkungan khususnya terhadap kota melalui penelitiannya. Temuan Lynch dari penelitian ini dianggap paling signifikan dalam ilmu persepsi lingkungan (arsitektur dan perkotaan) karena teknik/ metode yang dipakai melalui mental map yang dianggap paling mampu mengkaitkan antara ide abstrak (persepsi) dan ide nyata melalui pemahaman struktur kota (master-plan). Penelitian Lynch ini difokuskan pada orientasi manusia di skala lingkungan yang relatif luas dengan mengenali simbol dalam lingkungan yang familiar (Von Meiss 1986). Penelitian Lynch dilaksanakan dalam waktu hampir sepuluh tahun di tiga kota Amerika, yaitu: Boston, Los Angeles dan Jersey, tahun 1950 sampai 1960. Simbol atau image atau elemen lingkungan kota ini diperlukan sebagai arahan dalam bergerak dan untuk menemukan arah (way finding), disamping itu juga dapat memberikan keamanan secara emosi. Menurut Gibson (1950) kemampuan ini merupakan kebutuhan mendasar dari semua makhluk hidup didalam lingkungannya.

”Our thesis is that we are now able to develop our image of the environment by operation on the external physical shape as well as by an internal leraning process, indeed, the complexity of our environment now compels us”

(Lynch, 1960, hal.12)

Menurut Lynch, dalam menandai lingkungannya, faktor kekuatan visual (imageability/ apparency) menjadi sangat dominan. Semakin kuat faktor visual, semakin kuat pula elemen tersebut diingat/ dipahami oleh si-pengamat. Karena secara prinsip ada tiga hal dari elemen kota yang akan diingat oleh pengamat, yaitu: elemen yang memberikan indentitas, elemen yang mengarah kepada pola kota, dan elemen yang memberikan makna (baik kepada individu maupun secara sosial). Untuk itu, Lynch hanya akan fokus kepada elemen kota visual yang memberikan makna bagi si-pengamat.

Menurut Lynch di buku A Theory of Good City Form (1981), ada beberapa faktor utama yang perlu diperhatikan dalam menghadirkan kota yang ideal, yang disebut sebagai dimensi (dimensions). Dimensi tersebut yaitu: vitality, senses, fit, access, control, efficiency dan justice. Di dalam senses sendiri, mencakup tiga hal, yaitu: sense of place, sense of event/ occasion, dan sense of formal structure. Di dalam buku ini, Lynch menyatakan bahwa tidak hanya melalui kekuatan visual saja kota dianggap sebagai kota ideal, tetapi dari banyak faktor lain yang mempengaruhi, diantaranya kemampuan kota memenuhi kebutuhan dasar penghuni, ketersediaan fasilitas penghuni untuk beraktifitas dan juga rasa terhadap ruang-ruang kota yang bermakna. Sense of place sendiri adalah segala sesuatu yang kasat mata dan memiliki makna, karena berkaitan erat dengan budaya. Sedangkan sense of formal structure berkaitan erat dengan kemampuan seseorang terhadap orientasi di dalam setting kota (mental map), selain itu dipengaruhi oleh kegiatan sehari-hari dan budaya seseorang.

Jika dikaitkan dengan teori ’Imageable City’,  kualitas visual pada suatu kota terletak pada kekuatan sense of place dan sense of formal structure yang dihadirkan oleh elemen-elemen kota tersebut. Kualitas visual ini yang dikatakan Lynch mampu menjadikan suatu kota tersebut ideal dan nyaman untuk ditinggali. Elemen-elemen kota yang memiliki kualitas visual yang baik, pasti mampu menghadirkan sense of place dan sense of formal structure yang baik pula. Sehingga dapat dikatakan bahwa kota tersebut memiliki kualitas visual yang baik. Menurut Lynch (1960), ada lima elemen kota mendasar yang mampu memberikan kualitas visual bagi kota. Elemen yang diteliti Lynch adalah: path, edges, nodes, landmark dan distrik. Elemen-elemen inilah yang dianggap sebagai lima elemen utama yang paling kasat mata dan terasa di kawasan kota. Semakin kuat kelima elemen ini, semakin kuat kualitas visual kotanya, yang berarti semakin baik kotanya memberikan kualitas imageable terhadap pengamat.

 GAYA HIDUP DAN PERSEPSI KOTA

 Kehidupan kontemporer saat ini banyak dipengaruhi teknologi dan globalisasi. Efek dari globalisasi diantaranya: mobilitas besar-besaran (hyper-mobility), komunikasi global, dan  proses penetralan terhadap arti ruang dan jarak (Sassen 2001), adalah faktor-faktor penting yang mempengaruhi ikon-ikon kota. Seiring dengan perubahan inilah, persepsi terhadap kota juga berubah. Pada jaman ini manusia lebih cenderung untuk menyukai sesuatu yang praktis dan cepat, begitupula hal-hal yang menyangkut kesehariannya, termasuk dalam berperilaku. Menurut Talcot Parsons, terdapat empat hirarki dalam manusia berbudaya yaitu: sistem budaya, sistem sosial, sistem kepribadian dan sistem perilaku. Lifestyle atau gaya hidup adalah suatu perilaku yang diulang-ulang dalam kurun waktu tertentu menjadi suatu kebiasaan. Karena gaya hidup sangat berkaitan dengan keputusan dalam kegiatan keseharian dan budaya seseorang, maka pembahasan pengaruh gaya hidup dimulai pada karakter budaya dan gaya hidup dari responden.

Seperti yang dijelaskan di Metode Penelitian, responden adalah mahasiswa Arsitektur semester 7, usia antara 20-22 tahun, sebagian besar berasal dari kehidupan ekonomi keluarga menengah keatas, dan berkendara dengan mobil dalam mobilitasnya. Anak muda dengan karakter ini kegiatan kesehariannya pasti berkaitan erat dengan sekolah dan hiburan atau rekreasi. Seperti yang dapat dilihat di mental map, semua pengamat menyebutkan kampusnya sebagai landmark utama kota karena yang setiap hari mereka kunjungi, meskipun landmark tertinggi adalah Tunjungan Plaza (TP).

SURABAYA mental map 2011

Banyak faktor yang mempengaruhi pemilihan TP menjadi landmark utama. Selain faktor eksternal (kekuatan visual: kontras), juga faktor internal (seperti kelengkapan dan kemodernan fasilitas). Karena faktor internal inilah, anak muda dengan karakter seperti diatas memilih untuk melakukan kegiatan rekreasinya di tempat ini. Berdasarkan diskusi mendalam, ada yang menyatakan karena tidak adanya fasilitas lain selengkap TP, tidak ada yang semodern TP dan tidak ada yang semudah TP pencapaiannya. Tetapi terlebih daripada itu, budaya ’ngemall’ sudah menjadi gaya hidup anak muda dengan karakter tersebut. Setiap mereka memiliki waktu luang, mereka akan lebih memilih untuk ’ngemall’ baik bersama keluarga maupun teman-teman. Mall sudah menjadi tempat wajib untuk bersosialisasi. Selain itu, hampir seluruh responden meyakini bahwa budaya ’ngemall’ ini bukan dari generasi mereka saja, tetapi sudah terbentuk dari kecil, karena orang tua mereka selalu memberikan pilihan untuk ke mall sebagai tempat rekreasi (sangat sedikit yang mengatakan diajak ke pantai Kenjeran, museum Mpu Tantular atau KBS).

LANDMARK Surabaya berdasarkan mental map

Menjadi menarik di temuan penelitian bahwa KBS adalah landmark tertinggi kedua setelah TP. Setelah dilakukan diskusi mendalam, hanya sekitar satu hingga dua kali dalam hidup responden mengunjungi KBS. Dapat disimpulkan disini, KBS menjadi penanda lebih karena faktor lokasi yang strategis sehingga mudah diingat untuk menjadi penanda lingkungan. Hal ini juga sama dengan Tugu Pahlawan, Balai Pemuda dan Balaikota.

PATH Surabaya berdasarkan mental map

Berdasarkan pemahaman citra kota yang telah diteliti, pengamat kota Surabaya mempersepsikan struktur kota sebagai sesuatu yang linier sejalan dengan path utama yaitu aksis A.Yani-Darmo-Basuki Rahmad. Pemahaman referensial pengamat pada aksis utama ini juga sejalan dengan pengenalan banyaknya landmark kota yang dianggap kuat disepanjang aksis ini. Pertumbuhan kotapun selalu sejalan dengan generator perkotaan yang ada disepanjang jalan ini, dimana hampir seluruh kegiatan pengamat tergantung dengan keberadaan aksis tersebut. Dari analisis urban ekonomi, dapat dibuktikan juga, semakin kuat aksis tersebut berarti semakin tinggi pula nilai dan intensitas lahan disekitarnya (Balchin 2000).

Begitu pula persepsi yang diperoleh dari penelitian, mayoritas pengamat merasakan dengan cukup kuat kualitas spasial dan facade dari aksis ini, juga kualitas tujuan (destination) menuju kearah pusat kota. Kualitas ini diperoleh dari perubahan kepadatan, ketinggian dan fungsi bangunan yang melingkupinya, yaitu menjadi semakin padat, tinggi dan bersifat komersial. Karakter refensial ini menurut Lynch (1960) yang membuat path/ jalan menjadi elemen kota yang paling mudah untuk dikenali dan diingat, karena kekuatan struktur formalnya. Persepsi yang tercipta di kawasan sebelah selatan Kantor Walikota juga melemah, bahkan tidak dikenali sama sekali kecuali beberapa landmark dikawasan tersebut (THR, ITC, JMP dll). Demikian pula halnya dengan sisi timur dan barat jalur utama, hanya sedikit sekali yang memiliki persepsi kuat untuk berorientasi. Banyak hal yang menyebabkan hal ini, yang terutama adalah karena kecenderungan manusia untuk lebih mengenali sesuatu yang berkaitan erat dengan struktur-formal lingkungan. Dapat dilihat di peta mental, pengenalan path disepanjang jalur utama cukup dominan dan pengenalan terhadap landmark juga cukup detail.

 KESIMPULAN

 Persepsi kota Surabaya yang telah teridentifikasi dan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Persepsi kota dipengaruhi erat oleh perilaku seseorang, dimana perilaku adalah runtutan dari sistem budaya.
  2. Landmark kota Surabaya yang memiliki kekuatan referensial terkuat adalah: Tunjungan Plaza, Kebun Binatang Surabaya dan Pakuwon Trade Centre.
  3. Path kota Surabaya yang memiliki kekuatan referensial terkuat adalah: A.Yani, Raya Darmo dan Basuki Rahmad.
  4. Kekuatan referensial landmark kota tergantung dari beberapa karakter diantaranya: kekontrasan dengan lingkungan, keunikan arsitektur, aksesibilitas lokasi, kekuatan internal fasilitas, dan arah path/ jalan.
  5. Kekuatan referensial path kota tergantung dari beberapa karakter diantaranya: menerus (continuous), tujuan yang terdefinisi (langsung terlihat atau bertahap), pemanfaatan lahan disekitar, karakter spasial, dan karakter façade.

Penelitian yang menjadi dasar paper ini adalah penelitian awal yang selanjutnya perlu dikembangkan lagi, seperti memperluas responden, baik dalam usia, strata sosial dan ekonomi. Karena faktor-faktor ini cenderung memiliki pengaruh kuat dalam pengamat mempersepsikan kota. Penemuan dari penelitian ini merupakan awalan bagi temuan-temuan selanjutnya, untuk dapat merumuskan citra kota Surabaya pada jaman ini.

DAFTAR PUSTAKA

 Balchin, P. I., David; Chen, Jean, Urban Economics; a global perspective, New York, Palgrave, 2000

Dick, Howard, 2002, Surabaya, city of work, Ohio University Center for International Studies, Ohio

Gibson, James.J, 1950, The Perception of the Visual World, Greenwood Press Publisher, Westport

Lynch, Kevin, 1960, The Image of the City, MIT Press, Cambridge

Lynch, Kevin, 1981, A Theory of Good City Form, MIT Press, Cambridge

Mumford, Lewis, 1968, The Urban Prospects, Harcourt Brace & World Inc, New York

Sassen, Saskia, 2001, The Global City, Princeton University Press, New Jersey

Von Meiss, Pierre, 1986, Elements of Architecture: from form to place, Van Nostrand Reinhold Publisher, New York

Advertisements
Posted by: rullydamayanti | May 12, 2011

paradigma kota

Sebelum memahami teori-teori klasik Arsitektur Kota, perlu dipahami dahulu dua paradigma dasar dalam perencanaan dan perancangan kota. Yang pertama adalah paradigma yang menganggap Kota sebagai Produk, yang kedua Kota sebagai Proses (Zahnd, 1999).

 

Paradigma pertama menitik beratkan pemahaman kota kepada elemen fisik kota; penciptaan elemen fisik baru dalam suatu Kota dengan sedikit melihat sistem-sistem yang ada di kota tersebut. Paradigma ini biasanya dipakai oleh kota-kota kapitalis yang lebih berorientasi kepada peningkatan nilai investasi yang masuk kedalam kota.

 

Sedangkan pemahaman Kota sebagai Proses, ditekankan kepada proses terjadinya suatu kota, seperti pendekatan sejarah kota, perkembangan kota dan pendekatan ideologis. Pemahaman ini lebih dapat menggali latar belakang dan sistem-sistem yang membentuk suatu kota. Untuk kota di Indonesia, pendekatan ini banyak dilakukan di kota-kota dengan akar budaya yang kuat, seperti Yogyakarta, Solo, Aceh, dan kota-kota di Bali.

Kedua paradigma ini, secara prinsip memberikan kontribusi yang berbeda dalam pemahaman suatu kota. Secara ideal, kedua paradigma ini berjalan bersamaan untuk menciptakan kota yang ’ideal’. Tanpa memahami proses terjadinya kota, yang berarti tidak memahami sistem-sistem pembentuk kota; sulit untuk dapat memahami ’produk kota’. Begitu pula sebaliknya; dalam menciptakan suatu Kota (atau bagian kota), perlu digali dan dipahami dulu proses terbentuknya sistem-sistem kota yang ada didalamnya.

 

Secara praktek, kedua paradigma ini adalah suatu pilihan, sulit untuk dilaksanakan bersamaan. Hal ini terjadi karena arah pertumbuhan kota lebih banyak ditentukan oleh strategi politik dari pemerintah sebagai pengelola kota utama. Beberapa kota menitik beratkan kepada peninggalan budayanya sebagai aset wisata, dan sebagian lain menitik beratkan kepada kemajuan teknologi dan desain kontemporer untuk menarik minat investor.

Posted by: rullydamayanti | May 12, 2011

filosofi kota

Kota merupakan sekumpulan sistem-sistem perkotaan yang saling berkaitan satu sama lain. Sistem-sistem itu meliputi banyak hal, baik itu sistem ekonomi, sosial, transportasi, dan juga sistem politik. Kesemua sistem ini saling bertautan membentuk apa yang dinamakan Kota. Suatu kota akan tumbuh dan terus berkembang jika ada kegiatan ekonomi yang berkelanjutan, kegiatan ekonomi ini didukung oleh sistem sosial/ budaya sebagai pelaksana kegiatan ekonomi tersebut, sedangkan sistem ekonomi ini merupakan salah satu alat politik dalam pembangunan suatu kota, dan kegiatan ini difasilitasi oleh sarana transportasi kota, begitu seterusnya. Kesemua sistem ini saling berkembang dan bertautan terus-menerus, sehingga kelanjutan dari satu sistem akan mempengaruhi sistem yang lain.

 

Arsitektur Kota merupakan produk atau ekspresi fisik dari sistem-sistem tersebut, sistem-sistem tersebut mengkristal menjadi tampilan fisik suatu kota atau yang dikenal sebagai Arsitektur Kota. Seiring dengan tumbuh dan berkembangnya sistem-sistem didalam suatu kota, berkembang pula Arsitektur Kota-nya. Kota-kota di negara berkembang, seperti kota di Indonesia, masih terus dalam proses tumbuh dan berkembang karena denyut pertumbuhan khususnya ekonomi dan budaya bergerak dengan relatif cepat.

Hingga saat ini, acuan Arsitektur Kota di Indonesia masih kepada model kota ’indah’ dari negara maju. Hal ini menimbulkan banyak kendala dalam aplikasinya, karena sistem-sistem pembentuknya sangat berbeda, sistem ekonomi berbeda, sistem politik berbeda, dan lain-lain. Keterbatasan informasi untuk dapat menciptakan Arsitektur Kota Indonesia yang ’ideal’, menjadikan pengembang, perencana kota dan juga pemerintah mengacu kepada konsep dari negara maju.

Posted by: rullydamayanti | May 12, 2011

kota sebagai produk

Pelaku perancang kota di Indonesia sepenuhnya dipegang oleh pemerintah, kecuali untuk wilayah-wilayah kota yang bersifat mandiri, seperti kawasan perumahan, industri dan wisata. Pemerintah sebagai perencana kota dibantu oleh pihak lain untuk merencanakan dan merancang suatu wilayah kota. Secara historis, kota-kota besar di Indonesia pada jaman dahulu dikelola juga sepenuhnya oleh raja melalui kerajaan yang dipimpinnya, seperti kerajaan Mataram mengatur wilayah Yogyakarta, Solo hingga Jawa Timur dan Bali. Secara ideal, karena perencanaan dan perancangan kota menyangkut kepentingan orang banyak, sudah selayaknyalah dikelola sepenuhnya oleh pemerintah.

 

Untuk sebagian besar kota-kota besar dan strategis di Indonesia, paradigma yang dipakai untuk merencanakan kota adalah Kota sebagai Produk, dengan sedikit pemahaman terhadap proses yang menghasilkan produk itu sendiri. Sudah dijelaskan diatas, bahwa secara ideal kedua paradigma ini berjalan bersamaan untuk dapat menciptakan kota yang ideal. Tetapi kendala dalam pelaksanaannya sangat banyak dan rumit (masalah ketidak jelasan informasi, korupsi, intepretasi data yang salah, dan lain-lain), sehingga untuk mencapai jalan pintas, pendekatan produk lebih dipilih untuk merencanakan kota di Indonesia.

Kota-kota di Indonesia saat ini berpacu untuk menarik investor dari luar, untuk meningkatkan pendapatan daerahnya demi kesejahteraan daerahnya juga (karena strategi otonomi daerah). Untuk itu pemerintah kota merancang wilayahnya sedemikian rupa agar menarik investor untuk menanam modal di daerahnya. Semakin banyak retail, mall, industri, atau pusat perdagangan; berarti semakin banyak juga Rupiah yang akan masuk ke dalam kas daerah. Pendekatan proses yang relatif memakan waktu lebih banyak sedangkan hasilnya jangka panjang, bukan merupakan pilihan yang tepat saat ini.

 

Dengan pendekatan yang dipilih, tidak dapat dipungkiri bahwa kota-kota di Indonesia banyak kehilangan identitas aslinya. Pemahaman terhadap makna dari ruang kota (seperti pada Theory of Place), masih sangat kurang. Ruang-ruang kota yang bermakna sebagian besar dikalahkan oleh kepentingan ekonomi semata. Memang dalam jangka pendek akan mendatangkan keuntungan bagi kota, tetapi untuk jangka panjang, kota lambat laun akan kehilangan identitasnya.

 

Teori-teori arsitektur kota yang ditawarkan oleh para pakar dari negara maju, dapat dipakai sebagai alat untuk menganalisa pertumbuhan kota kita saat ini. Seperti kebutuhan akan ruang terbuka dapat dipahami melalui aplikasi Figure-ground Theory, semakin padat berarti kebutuhan akan ruang terbuka semakin tinggi. Begitu juga aplikasi dari Linkage Theory, perlu difasilitasi secara khusus tautan fisik yang menghubungkan dua generator kota yang vital, untuk tetap mengarahkan pertumbuhan kawasan tersebut. Untuk aplikasi Theory of Place, sangat penting untuk mengenali identitas kawasan melalui penggalian makna ruang kota tersebut.

Posted by: rullydamayanti | May 12, 2011

teori klasik arsitektur kota

Teori-teori klasik Arsitektur Kota dibagi dalam tiga kelompok besar. Pembagian ini lebih kepada fokus dari masing-masing teori; bukan berarti teori yang satu menyalahkan yang lain, tetapi saling melengkapi; yaitu: Figure-ground theory, Linkage theory dan Theory of place (Trancik, 1986).

 

 

Gambar disamping ini merupakan representasi dari konsep tiga teori klasik arsitektur kota. Teori figure-ground, menekankan pada solid dan void kota. Teori linkage menekankan pada hubungan antar pusat-pusat aktivitas, sedangkan place theory menekankan pada makna dari tiap ruang kota yang ada.

 

 

 

 

 

 

Keadaan solid-void kawasan bundaran Waru dilihat dari arah Barat menunjukkan tingkat kepadatan yang cukup tinggi di sebelah Barat dengan bentuk homogen sedangkan makin ke Timur makin longgar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Linkage antar fungsi bangunan di jalan Urip Sumoharjo hanya difasilitasi denga jalan umum, sehingga kepadatan jalan semakin tinggi.

 

 

 

 

 

 

 

Taman Bungkul semenjak dilengkapi dengan berbagai fasilitas, memiliki makna sebagai ruang bersama warga kota dengan berbagai macam aktifitas pendukung.

 

 


Sesuai dengan namanya; Figure-ground theory, teori ini lebih menekankan pada pengenalan struktur kota figure and ground; solid and void; atau building and open space. Figure adalah wilayah/ area kota yang terbangun, sedangkan ground adalah wilayah/area kota yang tidak terbangun. Pengenalan terhadap stuktur kota ini berguna untuk mengetahui keteraturan, pola perkembangan, keseimbangan dan kepadatan. Contohnya, pemetaan figure-ground menunjukkan bentuk dan dimensi yang relatif sama untuk daerah terbangun dan tidak terbangun, bisa disimpulkan bahwa pola kota tersebut relatif lebih homogen. Sedangkan jika dalam pemetaan terlihat bentuk dan dimensi yang sangat bervariasi, disimpulkan bahwa kota tersebut berpola lebih heterogen. Bentuk radial, grid atau organis juga dapat dikenali melalui pemetaan figure-ground. Selain itu teori ini paling mudah untuk mengenali tingkat kepadatan suatu daerah dibandingkan dengan yang lain; terpadat, sedikit padat, atau kurang padat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar disamping diambil dari buku Markus Zahnd (1999). Gambar ini adalah contoh pemetaan dengan teori figure-gound, dengan menganalisa ruang publik-semi publik-dan privat.

 

Gambar ini juga menunjukkan kepadatan yang cukup tinggi, dengan ruang terbuka pada fasilitas-fasilitas yang bersifat publik. Jalan yang terbentuk sebagai void menunjukkan hirarki yang kurang jelas, karena polanya yang sangat organik. Pertumbuhan kotanya lebih bersifat blok massa tunggal dan besar, dan ruang kota yang tercipta merupakan bagian dari ruang sirkulasi kota linier.

Untuk beberapa kasus, pemetaan juga bisa diluaskan kepada pengenalan area kota berdasarkan tingkat privasinya. Bisa disimpulkan sementara bahwa area kota yang terpetakan sebagai solid adalah area privat, sedangkan sebagai void adalah publik. Untuk area yang dianggap semi publik (atau semi privat) dapat dibuat dengan gradasi warna antara pemetaan solid dan void (biasanya abu-abu atau transparan dengan struktur horisontal terpotong yang terlihat).

 

Linkage theory adalah teori yang memahami struktur kota melalui keterkaitan fungsi satu sama lain. Fungsi vital kota dalam skala yang relatif besar bisa dianggap sebagai generator pertumbuhan kota; seperti fungsi pendidikan, fungsi mall, atau fungsi pabrik. Fungsi-fungsi vital ini men-generate pertumbuhan kota dengan cukup cepat. Seperti contoh, dengan beroperasinya suatu pabrik (dengan skala relatif besar) pada suatu kawasan tertentu, akan men-generate pertumbuhan disekitarnya, seperti pertumbuhan retail, perkampungan menengah dan bawah, fungsi pendidikan, dan lain-lain. Linkage teori menggaris bawahi keterkaitan antara generator-generator kota tersebut.

 

Keterkaitan secara fisik dapat dilihat melalui beberapa elemen kota, seperti adanya jalan sebagai penghubung, koridor pejalan kaki, jajaran elemen landsekap berupa pohon ataupun elemen vertikal ruang kota yang dominan (seperti jajaran bangunan tinggi). Jenis elemen penghubung generator ini sangat tergantung dengan fungsi yang dihubungkannya dan skala layanan fungsi tersebut; semakin vital dan semakin luas layanan suatu fungsi kota; semakin kuat pula elemen penghubungnya. Secara sederhana, Roger Trancik (1986) mengatakan ”Linkage is simply the glue of the city”.

 

Jalan sebagai elemen penghubung utama dalam suatu kota, yang menghubungkan fungsi-fungsi vital kota., bisa berupa jalan untuk kendaraan, pedestrian atau koridor bangunan.

 

Pada jalan Urip Sumoharjo, terlihat secara linier fungsi-fungsi vital dihubungkan dengan jalan kendaraan bermotor dan pedestrian. Keterkaitan antar fungsi vital dalam blok Tunjungan Plaza selain melalui koridor pedestrian juga melalui kantong parkir (di halaman depan).

 

Tunjungan Plaza men-generate pertumbuhan kios-kios domestik disekitarnya (untuk karyawan), antara fungsi besar TP dan kios ini dihubungkan dengan pedestrian kecil disamping TP yang terkesan spontan.

 

Theory of place diperkenalkan oleh Roger Trancik. Teori ini memahami kota lebih kepada makna dari ruang kota tersebut. Yang dimaksud makna adalah nilai atau value yang berakar dari budaya setempat. Contoh alun-alun di Yogyakarta, ruang kota ini memberikan makna/ nilai tersendiri terhadap kota Yogyakarta, karena nilai historis ruang tersebut dan makna dari alun-alun itu sendiri terhadap struktur kota Yogyakarta secara keseluruhan. Contoh lainnya adalah Taman Apsari di Surabaya, taman ini memiliki nilai formal dan khusus bagi warga Surabaya karena letaknya yang berhadapan langsung dengan bangunan penting pemerintahan, dan juga event-event kenegaraan yang sering diselenggarakan.

 

Jadi, untuk menggali suatu makna, diperlukan pemahaman dari berbagai segi, bisa itu historis kota, jenis aktifitas, letak terhadap kota, dan lain-lain. Place bukan sekedar space/ ruang, ruang akan menjadi place jika ditandai dengan adanya makna didalamnya. Beberapa pakar perkotaan menandai place sebagai identitas suatu kota. Teori ini dapat dipakai untuk memahami identitas kota, karena teori ini menandai ruang kota karena adanya makna yang menyertainya , dimana makna tersebut unik dan berbeda satu sama lain karena berakar dari budaya setempat.

 

 

 

 

Taman Apsari, jalan Semarang, dan koridor jalan Polisi Istimewa memiliki karakter yang berbeda dan menjadi identitas bagi kawasan tersebut. Pemahaman identitas kawasan ini yang semestinya diangkat menjadi suatu potensi kawasan tersebut dalam pengembangannya.

 

  

    


Posted by: rullydamayanti | May 12, 2011

diskusi arsitektur dan perkotaan

sebagai permulaan untuk membuka diskusi dengan siapa saja mengenai arsitektur dan perkotaan

Categories